MALINAU, okenews.net - Menjadi salah satu garis depan di
wilayah perbatasan antara İndonesia dan Malaysia, Kabupaten Malinau memiliki
peran penting, terutama dalam menanamkan rasa nasionalisme kepada warganya. Tak
hanya generasi muda, para orang tua juga memiliki peranan, sebagai representasi
keutuhan Negara Kesatuan Republik İndonesia (NKRİ)
"Pemberian pemahaman tentang wawasan kebangsaan di
wilayah perbatasan kita libatkan Danramil dan Kapolsek setempat.
Permendagri-nya juga ada untuk pengetahuan wawasan kebangsaan dan masuk dalam
kurikulum sekolah. Sehingga tenaga pengajar diwajibkan dapat memberikan
pemahaman kepada peserta didiknya, tentang wawasan kebangsaan itu
sendiri," jelas Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol)
Malinau, H Saparudin, kepada okenews.net
Perlunya pengetahuan tentang wawasan kebangsaan, dinilai
Saparudin, karena wilayah perbatasan kerap menjadi incaran negara tetangga
untuk diklaim.
"Kita belajar dari kasus pulau Sipadan dan Ligitan,
dimana wilayahnya masuk Indonesia, tetapi yang memelihara dan membangun
fasilitasnya adalah Negara lain. Sehingga, dimahkamah dunia, Indonesia harus
melepaskan Sipadan dan Ligitan," ucap Saparudin.
"Begitu juga dengan wilayah kita yang ada saat ini,
jangan sampai yang membangun fasilitasnya itu negar lain, dan masyarakat
kemudian berpindah kewarganegaraan. Sehingga kemudian diklaim wilayah itu
adalah wilayah mereka (asing, Red)," sambungnya.
Pemda Malinau telah membangun sejumlah sarana dan prasarana,
yang diharapkan bisa mencegah lunturnya nasionalisme akibat ketimpangan
fasilitas yang terjadi antara negara tetangga dengan İndonesia, khususnya di
wilayah perbatasan.
"Seperti tower telekomunikasi, sekarang hampir seluruh
wilayah perbatasan bisa berkomunikasi seluler. Pembangunan jalan yang
terintegrasi antar masing-masing kecamatan. dan yang terpenting, Berkibarnya
bendera Merah Putih di batas Negeri," tutur Saparudin.
Selain itu, kunjungan pejabat tinggi pemerintah pusat ke daerah perbatasan
juga menjadi dorongan semangat nasionalisme bagi masyarakat.
"Saat ini kebanyakan masyarakat yang kemudian pindah
warga negara itu merasa karena Negara tidak hadir disekitar mereka. Untuk itu
kunjungan dan perhatian khusus dari sejumlah petinggi Negara Indonesia menjadi
dorongan semangat dan motivasi tetsendiri bagi masyarakat perbatasan,"
pungkasnya. (nov/arm)

Tidak ada komentar: