TARAKAN,
okenews.net – Penderita Demam Berdarah Dangue (DBD) di Kota Tarakan dalam kurun
waktu satu tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukuip signifikan. Berdasarkan
catatan Dinas Kesehatan (Dinkes), pada bulan Januari 2016 penderita DBD
mencapai 75 kasus, dengan 1 penderita anak meninggal dunia, dan untuk di bulan
Febuari sudah 68 orang yang menderita DBD.
Menurut
Kepala Dinkes Tarakan Subono Samsudi MT, DBD masih menjadi salah satu penyakit
penyebab kematian bayi dan balita. Untuk tahun ini, sirklus peningkatan DBD
terjadi di bulan Mei - November, dan untuk mencegah bertambahnya penderita DBD, pihak
Dinkes melakukan aksi nyata dalam rangka pencegahan.
“Di
beberapa daerah DBD sudah menjadi Kasus Luar Biasa (KLB), melihat ke Tarakan, jumlah
penderita DBD lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya, Januari satu anak harus
meninggal dunia dengan total kasus 75 penderita, dan di Febuari sudah ada 68
orang menderita DBD,” beeber Subono, Rabu (24/02/2016).
Untuk
meminimalisir penderita DBD, Subono meminta masyarakat melakukan aksi nyata untuk
mengantisipasi perkembang biakan Nyamuk Aedes Aegypty dengan melakukan 3 M Plus,
yaitu menguras, menyikat dan menutup rapat tempat penampungan air,
menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan, serta
ditambah aksi lainnya seperti yang mampu membunuh perkembangan nyamuk DBD.
“Masyarakat
bersama Dinkes, harus melakukan aksi nyata untuk mencegah nyamuk DBD, dengan 3
M, Plus menggunakan lotion anti nyamuk, menempatkan ikan cupang, untuk mematikan
nyamuk, menanam tanaman anti nyamuk, memberikan abate ke penampungan air,”
ucapnya.
Subono
mengakui, adapun wilayah di Tarakan yang masuk kategori waspada DBD cukup
meratas, namun dapat di petakan daerah yang sering terjadi DBD yakni Kelurahan
Juata Laut, Mamburungan Timur, Karang Harapan, Kampung Satu/Skip, Selumit,
Selumit Pantai dan Karag Anyar Pantai.
“Kelurahan
Karang Rejo cukup rendah jumlah penderita DBD, tertinggi Mamburungan Timur, dan
daerah pesisir lainnya,” tuntasnya. (nor)

Tidak ada komentar: