TARAKAN, okenews.net – Penyanderaan kapal TB Henry dan Tongkang cristi, pada 15 April lalu di perairan internasional, oleh perompak yang diduga berasal dari Filipina, masih membekas di benak Yohanis Serang, Chief Enginering kapal TB Henry. Bapak dua anak itu menceritakan, dirinya pertama kali mengetahui, saat kapal perompak melaju kencang menuju kapal TB Henry, dari arah belakang.
Tepat pukul 16.20 Wita, kapal yang hendak menuju Tarakan ini didekati satu unit speed boat bermesin satu, dengan mendekati kapal dan merapat pada bagian lambung kiri.
"Saat itu saya, hendak mengambil pakaian yang di jemur, dibagian buritan belakang kapal. Ada kapal speed melaju dan mendekati kapal, Saya langsung teriak ‘abu sayyaf’ dua kali, tetapi mereka tidak percaya dan langsun naik ke bagian atas kapal,” papar Yohanis kepada okenews.net, Sabtu (23/04/2016).
Yohanis yang sebenarnya tak mengetahui identitas kelompok perompak namun berdasarkan pengalaman berlayar ke Filipina selama satu tahun, Yohanis tahu benar jika diperairan yang dilalui kapal TB Henry, termasuk daerah rawan yang menjadi wilayah operasi para perompak asal Filipina Selatan, tepatnya di dekat pulau Tawi-Tawi.
“Setelah merapat dari lambung kiri, 4 orang pakai senjata laras panjang naik ke atas kapal, satu orang standby di speed, mereka langsung mengeluarkan tembakan ke arah lantai,” lanjut Yohanis.
10 ABK TB Henry langsung dikumpulkan dibagian buritan belakang kapal, dengan posisi tangan memegang kepala. Satu persatu-satu ABK diperiksa dan diambil alat komunikasi oleh para perompak.
“Mereka (perompak, red) posturnya tidak terlalu besar, pakaiannya loreng berwarna gelap, tidak ada yang pakai topeng, mereka pun hanya menggunakan bahasa melayu saat bilang ‘turun’,” terangnya.
Yohanis berada di posisi dekat dengan pintu darurat kapal, saat perompak lengah, ia langsung turun ke bagian mesin untuk bersembunyi. Merasa cukup aman, Yohanis kembali ke atas buritan kapal, saat kembali tersebut Perompak sudah pergi, dengan menyandera 4 orang ABK.
“Begitu para perompak pergi, saya lihat teman saya si Lambas Simanungkalit sudah terkapar dan banyak darah,” beber Yohanis dengan nada sedih.
Lambas terkena timah panas perompak, dibagian rusuk kirinya. Ia pun dibantu oleh beberapa rekannya yang tidak dijadikan sandera, dengan meminta kain untuk menekan pendarahan di bagian luka tembak. “Dia (Lambas, red) sempat minta kain, terus dia tekan lukanya pakai tangannya sendiri,” ujarnya.
Tak lama kemudian, kapal patroli Police Marine dengan Sea Reader langsung mendekati kapal TB Henry. Satu unit Sea Reader sempat melakukan pengejaran terhadap para perompak, namun mereka sudah menjauh dan memasuki wilayah perairan Filipina.
"Perompak sempat dikejar oleh polisi Malaysia," tutup Yohanis. (rusman/nur)
Headline
Nasional
Kaltara
Hukum
Ekonomi
Politik
Teknologi
Gaya Hidup
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar: