SEBUAH kalimat sederhana dari seorang srikandi pendidikan, Nofvia De Vega, MPd untuk mendeskripsikan potret peningkatan mutu pendidikan di wilayah perbatasan yang terganjal sarana dan prasarana yang terbatas.
Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa İnggris di Fakultas Keguruan dan İlmu Pendidikan (FKİP) di Universitas Borneo Tarakan (UBT) ini, sempat merasa miris melihat kondisi guru di wilayah pedalaman yang harus menjalankan pengabdian, kendati harus berjalan kaki dengan jarak tempuh selama dua jam.
Bukan hanya soal jarak tempuh, para pahlawan tanpa tanda jasa di daerah pedalaman juga harus merasakan minimnya informasi yang masuk, akibat tidak adanya akses, seperti jaringan internet.
Belum cukup sampai disitu, kegiatan belajar mengajar juga dibarengi dengan aktifitas rumah tangga lainnya.
“Jadi mereka tuh ada yang membawa anak pada saat pelatihan bahkan ada yang ngetik sambil menyusui” ungkap Vega.
Alih-alih meningkatkan mutu melalui Penyuluhan dan sosialisasi kurikullum 2013, validasi soal, evaluasi dan pengembangan kurikullum rasanya mustahil untuk direalisasikan.
Sebab, update informasi soal dunia pendidikan jadi hambatan besar ditengah upaya pengembangan soft skill lantaran keterbatasan sarana dan prasarana, serta biaya yang cukup mahal.
Lewat momentum peringatan hari Kartini yang jatuh tanggal 21 April, Vega berharap peran wanita sebagai generasi yang bisa memajukan bangsa juga lebih diperhatikan.
"Pemerintah daerah setempat agar bisa mendukung perkembangan pendidikan didaerahnya. Pendidikan menjadi kunci dalam membuka gerbang kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat," (Andrie/rusman)
Headline
Nasional
Kaltara
Hukum
Ekonomi
Politik
Teknologi
Gaya Hidup
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar: